SEBAGIAN orang merasakan jantung tiba-tiba berdebar kencang meskipun sedang duduk santai, berbaring, atau tidak melakukan aktivitas berat. Sensasi ini sering menimbulkan rasa cemas dan ketakutan, terutama ketika muncul tanpa sebab yang jelas.
Tidak sedikit yang langsung mengira kondisi tersebut berkaitan dengan penyakit jantung serius. Padahal dalam dunia kedokteran, jantung berdebar atau palpitasi tidak selalu berbahaya, namun juga tidak boleh diabaikan.
Untuk memahami apakah kondisi ini normal atau perlu pemeriksaan medis, penting mengetahui penyebab dan tanda bahayanya.
Apa Itu Jantung Berdebar Menurut Medis?
Dalam istilah medis, jantung berdebar disebut palpitasi. Palpitasi dapat dirasakan sebagai:
- Jantung berdetak cepat
- Detak tidak teratur
- Sensasi jantung meloncat
- Detakan terasa kuat di dada atau leher
Palpitasi bisa berlangsung beberapa detik hingga beberapa menit.
Penyebab Jantung Berdebar Saat Istirahat
Lantas apa penyebab Palpitasi ini? Berikut penyebab paling sering menurut ilmu kedokteran:
- Stres dan Kecemasan
Stres emosional memicu pelepasan hormon adrenalin yang mempercepat denyut jantung.
Kondisi ini sering terjadi saat: banyak pikiran, cemas berlebihan, serangan panik, dan kurang tidur. Meskipun tidak berbahaya, keluhan dapat terasa sangat mengganggu.
- Konsumsi Kafein Berlebihan
Kafein merupakan stimulan yang dapat meningkatkan denyut jantung. Sumber kafein meliputi kopi, teh pekat, minuman energi, dan minuman bersoda. Pada sebagian orang, kafein dosis kecil saja sudah dapat memicu palpitasi.
- Kurang Tidur dan Kelelahan
Kurang tidur menyebabkan sistem saraf simpatis menjadi lebih aktif. Akibatnya detak jantung, meningkat, irama jantung tidak stabil, dan jantung terasa berdebar saat istirahat. Kondisi ini umumnya membaik setelah pola tidur diperbaiki.
- Anemia atau Kurang Darah
Saat kadar hemoglobin rendah, jantung harus memompa lebih cepat untuk memenuhi kebutuhan oksigen tubuh. Gejala yang sering menyertai lLemas, pusing, sesak ringan, dan wajah pucat. Palpitasi akibat anemia cukup sering terjadi terutama pada wanita.
- Gangguan Hormon Tiroid
Hipertiroid menyebabkan metabolisme tubuh meningkat berlebihan.
Akibatnya:
- Jantung berdebar
- Berat badan turun
- Mudah berkeringat
- Tangan gemetar
Keluhan sering muncul meskipun sedang beristirahat.
- Tekanan Darah Tidak Stabil
Tekanan darah yang terlalu rendah atau fluktuatif dapat memicu kompensasi jantung berupa detak lebih cepat.
Hal ini dapat terjadi saat:
- Dehidrasi
- Kurang asupan garam
- Berdiri mendadak
- Gangguan Irama Jantung (Aritmia)
Pada kondisi tertentu, palpitasi disebabkan oleh gangguan listrik jantung.
Contohnya:
- Atrial fibrilasi
- SVT (supraventricular tachycardia)
- Ekstrasistol
Gangguan ini membutuhkan evaluasi medis lebih lanjut.
Kapan Jantung Berdebar Masih Dianggap Normal?
Palpitasi umumnya masih tergolong ringan bila:
- Terjadi sesekali
- Tidak berlangsung lama
- Tidak disertai nyeri dada
- Hilang setelah istirahat
Namun tetap perlu dicatat frekuensinya.
Tanda Bahaya yang Harus Segera ke Dokter
Segera periksakan diri jika jantung berdebar disertai:
- Nyeri dada
- Sesak napas
- Pusing berat
- Pingsan
- Detak sangat cepat dan tidak teratur
- Riwayat penyakit jantung
Gejala tersebut bisa menandakan gangguan jantung serius.
Pemeriksaan yang Biasanya Dilakukan Dokter
Untuk menentukan penyebab palpitasi, dokter dapat menyarankan:
- Rekam jantung (EKG)
- Holter monitor 24 jam
- Tes darah
- Ekokardiografi
Pemeriksaan disesuaikan dengan kondisi pasien.
Cara Mengurangi Jantung Berdebar Secara Aman
Beberapa langkah yang dianjurkan secara medis:
- Kurangi kafein dan rokok
- Tidur cukup
- Kelola stres
- Minum air cukup
- Olahraga ringan teratur
- Hindari obat stimulan tanpa resep
Penggunaan obat jantung hanya boleh berdasarkan anjuran dokter.
Kesimpulan
Jantung berdebar saat istirahat tidak selalu berbahaya, namun juga tidak boleh diabaikan. Banyak faktor ringan seperti stres dan kafein, tetapi bisa pula disebabkan gangguan irama jantung.
Jika keluhan sering muncul atau disertai gejala berat, pemeriksaan medis sangat dianjurkan.(Vita/ai)
Disclaimer:
Artikel ini bersifat edukatif dan tidak menggantikan konsultasi langsung dengan dokter.













Comments